SIAPA SIH JULIANTO EKA PUTRA?

Terlahir dari pasangan Tonny Singgih Utama dan Yenny Sindawati, sulung dari 3 bersaudara ini melewati masa kecil dengan biasa-biasa saja, sama nakalnya seperti anak-anak lainnya. Ada satu hal yang berbeda dan menarik dari kisah masa kecilnya yang dimulai sejak kelas 4 SD, tanpa disadari Julianto kecil sudah mulai memupuk jiwa wirausahanya.

“Entah kenapa saat melihat teman-teman banyak yang main kelereng di sekolah, saya tertarik untuk bisa mencari tahu di mana kelereng itu bisa dibeli dan menjualnya kepada teman-teman” kenangnya kala itu. Dengan bertanya ke toko kelontong dekat rumah, Julianto segera mencari tempat di mana bisa membeli kelereng dengan murah. Alhasil, ia pun bisa mendapat keuntungan Rp 5,- dari setiap menjual 4 butir kelereng di sekolahnya.

Terlahir dari pasangan Tonny Singgih Utama dan Yenny Sindawati, sulung dari 3 bersaudara ini melewati masa kecil dengan biasa-biasa saja, sama nakalnya seperti anak-anak lainnya. Ada satu hal yang berbeda dan menarik dari kisah masa kecilnya yang dimulai sejak kelas 4 SD, tanpa disadari Julianto kecil sudah mulai memupuk jiwa wirausahanya.

“Entah kenapa saat melihat teman-teman banyak yang main kelereng di sekolah, saya tertarik untuk bisa mencari tahu di mana kelereng itu bisa dibeli dan menjualnya kepada teman-teman” kenangnya kala itu. Dengan bertanya ke toko kelontong dekat rumah, Julianto segera mencari tempat di mana bisa membeli kelereng dengan murah. Alhasil, ia pun bisa mendapat keuntungan Rp 5,- dari setiap menjual 4 butir kelereng di sekolahnya.

Tanpa terasa kebiasaan berjualan ini berlanjut hingga Julianto duduk di bangku SMP. Berbagai ‘bisnis’ sudah dijalaninya, mulai dari mengkoordinir acara perpisahan antar kelas, berjualan tape recorder dan radio bekas dari teman-temannya sampai menjadi perantara murid baru yang ingin masuk ke sekolah favoritnya kala itu. “Keuntungan saya beragam dari hanya puluhan ribu hingga ratusan ribu. Tidak masalah kan…. toh semua yang saya lakukan tidak merusak nama baik sekolah saya” ujar mantan siswa SMPK Angelus Custos ini dengan mantap.
Semua ini dilakukan bukan karena ia butuh uang besar tetapi Julianto merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri jika angka-angka saldo di tabungannya merambat naik.

Pelajaran Berharga Tentang Kepemimpinan

Saat di SMA terjadi suatu keadaan yang membuat Julianto terpukul dan down, yaitu tidak terpilih untuk memimpin organisasi apa pun di sekolahnya. Padahal sejak duduk di bangku SD Julianto selalu terpilih memimpin teman-temannya. Kondisi ini membuatnya kehilangan rasa percaya diri. Apalagi nilai raport di bawah rata-rata membuatnya semakin down. Tidak adanya prestasi membanggakan dalam dirinya memicu rasa malu. Ini salah satu kelemahannya kala itu. Hal ini ditutupi Julianto dengan memilih menjadi anak nakal, jagoan dalam berkelahi dan predikat anak madesu (masa depan suram) juga diraihnya saat itu.

Belakangan setelah lama menggeluti usaha bersama timnya, Julianto baru mengerti bahwa itu semua adalah bagian dari proses kepemimpinan dalam dirinya untuk merasakan terlebih dulu bagaimana rasanya hancur dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Rasa percaya dirinya bangkit kembali saat di Universitas 17 Agustus, saat kembali bisa meraih prestasi akademis dengan IPK tiga koma sekian. “Lho, aku ternyata bisa!” dan sejak itu semakin memicunya untuk selalu mencari prestasi serta meningkatkannya seperti yang dia kehendaki.

Naluri sebagai seorang pengusaha memanggilnya kembali untuk tidak sekedar duduk di bangku kuliah saja. Dia bergerak lagi untuk meraih penghasilan dengan berbagai cara termasuk menjadi sales sandal, pemanas air sampai agen asuransi pun pernah dilakoninya.

Ogah dengan pekerjaan hanya duduk menunggu pembeli datang ke toko emas milik orang tua yang akan diwariskan kepadanya selepas lulus kuliah, membuat pria kelahiran 8 Juli 1972 ini memilih bekerja sebagai account officer di sebuah bank swasta terkemuka.

Rasa ingin tahu membuatnya bertanya berapa kenaikan gaji karyawan setiap tahun dan menemukan bahwa ternyata kenaikan gaji maksimal hanya 20% pertahun. Hal ini membuat Julianto mencari alternatif pekerjaan yang memiliki potensi kenaikan income bisa bertambah berkali-kali lipat. Satu-satunya peluang adalah lewat bisnis yang saat itu baru dirintis. “Tidak ada salahnya dicoba” tutur pria yang hanya 6 bulan bekerja di bank sebelum akhirnya mengundurkan diri untuk menekuni bisnisnya secara penuh. Itu terbukti keputusan yang tepat karena bank tempatnya bekerja terkena likuidasi di tahun 1998 sedangkan bisnisnya semakin berkembang pesat.

Apa Pelajaran Menarik Dari Bisnis Yang Sudah Ditekuninya?

“Manusia itu unik dan menarik. Tidak bisa ditebak” jawab pria yang sejak kelas 4 SD bercita-cita menjadi orang kaya ini. “Kadang orang yang paling Anda cintai bisa sangat menyakiti hati Anda, kadang orang yang sering Anda bantu malah mengecewakan Anda. Terkadang orang yang jarang Anda bantu malah bisa menjadi orang yang paling banyak menolong Anda.”

Itu adalah pelajaran yang bisa ia simpulkan ketika merintis bisnis di berbagai daerah seluruh Indonesia. Karena keunikan manusia itulah, maka sangat wajar jika terjadi konflik atau ketidak-cocokan saat kita membina hubungan bisnis dengan rekan kita.Itu sebabnya mengapa di dunia ini ada perang. Karena ada 1 milyar perbedaan dan keunikan yang tidak bisa ditebak. Karena pengalaman itulah, Julianto memilih motto hidup yang sangat menggambarkan dirinya, yaitu “ Hidup Untuk Memahami, Bukan Untuk Dipahami.”

Saya tidak takut kehilangan harta atau semua yang telah saya raih selama ini. Karena sebuah kejatuhan bisnis justru memberikan tantangan tersendiri bagi saya” ujar ayah dari Stevanus Dominique Jevon, Jean Angeline Michelle dan Jean Natalie Shannon tanpa bermaksud sombong. “Saya justru takut kalau harus kehilangan orang-orang yang saya cintai dan orang-orang terdekat yang ada di sekeliling saya. Saya sadar mungkin saja tanpa sengaja saya menyakiti orang lain. Entah itu dari sikap saya atau mungkin dari perkataan saya. Saya paling khawatir kalau mungkin ada diantara mereka yang dendam pada saya” akunya dengan jujur.

Kini seiring dengan waktu, saat sudah banyak prestasi gemilang bermunculan dari bisnisnya Julianto selalu menekankan pada rekan-rekan kerjanya,” Lebih baik kita hidup satu hari tetapi ada sesuatu yang bisa dibanggakan dan bermanfaat untuk banyak orang, daripada hidup ribuan tahun tetapi tidak ada satu pun dari diri kita yang bermanfaat bagi banyak orang. Hidup ini akan jauh lebih berarti kalau kita berkarya. Kalau hidup cuma begitu-begitu saja, buat apa! Lebih baik maksimalkan semua potensi yang ada dalam diri Anda!”

Saat ditanya apa salah satu kiat suksesnya, pria yang mengidolakan Patih Gajah Mada ini menjawab tegas,” Keluar dari batasan-batasan yang ada! Sebetulnya yang membatasi diri seseorang untuk bisa memperoleh apa yang ingin diraih adalah dirimu sendiri. Toh, seberat apa pun apa yang kamu inginkan kalau dikerjakan dengan serius dan dilalui dengan kebersamaan, semuanya pasti akan bisa teraih.”

Banyak hal yang bisa kita petik dari perjalanan bisnis dan hidup seorang Julianto Eka Putra saat kita berbincang ringan dengannya. Sikapnya yang ramah dan senyumnya yang ringan membuat perbincangan tidak terasa. Dan senyuman itu juga yang menutup kisah kita kali ini.